Archive for the 'School Project' Category

Redesain Shelter TransJakarta

Wednesday, June 11th, 2008

Isu Arsitektur Kontemporer - Transportasi Massal di Jakarta
Redesain Shelter TransJakarta

Oleh:        M.Fahmi Alhaqqi – 315040137
Blog:         http://jakartainformal.com/blog/?cat=8
Pembimbing:    Josef Prijotomo & M. Nanda Widyarta

Transportasi Massal di Jakarta
Dewasa ini, transportasi umum merupakan hal yang sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat urban, khususnya di Jakarta. Seiring dengan makin tingginya pertumbuhan industri otomotif dan juga naiknya harga minyak dunia disertai dengan volume jalan raya yang kurang berkembang membuat keadaan transportasi di Jakarta semakin kompleks.

Bagi pemilik kendaraan pribadi, berkendara di Jakarta saat peak hours bukanlah suatu kenikmatan, banyak yang harus dibayar selain bensin yang terbuang percuma, juga waktu yang panjang yang harus terbuang sia-sia di jalan, belum lagi kondisi jalan yang makin hari makin tidak sempurna, terlalu banyak kerusakan yang diakibatkan dari rendahnya kontrol perawatan dan mungkin akibat banjir yang melanda Jakarta tidak berapa lama lalu.

Sejarah Transjakarta
Transjakarta memulai operasinya pada 15 Januari 2004 dengan tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta. Untuk mencapai hal tersebut, bus Transjakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain TransJakarta). Agar terjangkau oleh masyarakat, maka harga tiket disubsidi oleh pemerintah daerah.
Pada saat awal beroperasi, TransJakarta mengalami banyak masalah, salah satunya adalah ketika atap salah satu busnya menghantam terowongan rel kereta api. Selain itu, banyak dari bus-bus tersebut yang mengalami kerusakan, baik pintu, tombol pemberitahuan lokasi halte, hingga lampu yang lepas.

Selama dua minggu pertama, dari 15 Januari 2004 hingga 30 Januari 2004, bus Transjakarta memberikan pelayanan secara gratis. Kesempatan itu digunakan untuk sosialisasi, di mana warga Jakarta untuk pertama kalinya mengenal sistem transportasi yang baru. Lalu, mulai 1 Februari 2005, bus Transjakarta mulai beroperasi secara komersil.

Sejak Hari Kartini (21 April) 2005, TransJakarta memiliki pramudi perempuan sebagai wujud emansipasi wanita. Pengelola menargetkan bahwa nanti jumlah pramudi wanita mencapai 30% dari keseluruhan jumlah pramudi. Sampai dengan bulan Mei 2006, sudah ada lebih dari 50 orang pramudi wanita.

Isu yang diangkat
Shelter Transjakarta yang kurang “nasionalis”
Halte-halte Transjakarta berbeda dari halte-halte bus biasa karena letaknya yang berada di tengah jalan, selain itu halte di depan gedung pertokoan Sarinah dan Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, diberi fasilitas lift sisanya menggunakan ramp dan tangga yang kurang mengakomodir pengguna transjakarta yang memiliki cacat fisik atau lansia.

Waktu beroperasi halte-halte ini adalah 05:00 – 22:00. Apabila setelah pukul 22:00 masih ada penumpang di dalam halte yang belum terangkut karena kendala teknis operasional, maka jadwal operasi akan diperpanjang secukupnya untuk mengakomodasi kepentingan para penumpang yang sudah terlanjur membeli tiket tersebut.

Kontruksi halte didominasi oleh bahan alumunium, baja, dan kaca. Ventilasi udara diberikan dengan menyediakan kisi-kisi alumunium pada sisi halte. Lantai halte dibuat dari pelat baja. Pintu halte menggunakan sistem geser otomatis yang akan langsung terbuka pada saat bus telah merapat di halte.

Jika dilihat dari sisi arsitektural, desain shelter transjakarta terkesan modern, kaku dan panas dalam artian mengadopsi sisi modernitas namun mengabaikan sifat arsitektur nusantara yang tanggap terhadap lingkungan & iklim di Indonesia.

LAMPIRAN DATA & FOTO MENYUSUL 

Ars Kontemporer - Transportasi Massal di Jakarta - Part 2

Monday, March 10th, 2008

Pada bagian pertama, saya sudah mencoba meninjau dari sisi sejarahnya, pada bagian ini saya coba lebih mendetail dengan mengeksplorasi tiap-tiap poin yang saya sebutkan pada postingan pertama;

Post ini adalah salah satu syarat untuk pemasukan tugas mata kuliah Arsitektur Kontemporer
Judul Isyu: Transportasi Massal di Jakarta - M.Fahmi Alhaqqi - 315 04 0137


Trem

Jika kita kembali ke masa-masa Gubernur Jenderal JP Coen, Batavia sudah memiliki jaringan Trem yang meliputi pusat kota hingga ke daerah pinggir kota ketika itu.

Pada gambar diatas (1897) dapat dilihat sebuah Trem melintasi Stationsplein (Museum Bank Mandiri) tepat diseberangnya terdapat Stasiun Kota.

Dapat dilihat, garis kuning merupakan jalur Trem saat itu, menghubungkan pusat kota (Stadhuis) dengan Jalan Harmoni, dapat dilihat pula bahwa saat itu Trem sudah terintegrasi dengan Stasiun Kota, terbukti dengan adanya jalur yang melintasi didepan stasiun tersebut, mengingat Stasiun Kota saat itu masih melayani jalur kereta api luar daerah (Stasiun Gambir belum ada)

Dari gambar diatas, jelas sekali terlihat rel Trem yang melewati lajur di sekitar Stadhuis / Museum Fatahillah, dimana ketika itu Stadhuis merupakan pusat kota Batavia, hal ini memperlihatkan bahwasanya kebutuhan akan transportasi massal sudah direncanakan sejak awal

Pada gambar disamping, terlihat adalah peta jaringan Trem di Batavia ketika itu, Trem sudah merupakan transportasi massal yang terintegrasi dengan kota Batavia.

Dapat dilihat pula kotak-kotak hitam merupakan tempat pemberhentian Trem tersebut.

Transportasi Air

Sebelum membahas mengenai transportasi air, mari kita lihat kembali peta Batavia pada tahun 1920, di peta tersebut terlihat system grid yang menjadi dasar perencanaan kota dan dapat dilihat pula banyaknya percabangan kali yang melalui kota Batavia.

Dan lihat juga peta di Jalan Harmoni-Hayam Wuruk yang merupakan pusat bisnis kala itu, terlihat Kali Harmoni sebagai jalur transportasi air berdampingan dengan jalan raya di kedua sisinya

Jika kita melihat lebih jauh, cikal bakal transportasi air di Batavia adalah adanya pelabuhan sunda kelapa sebagai pintu masuk kapal para pedagang dari luar, memanfaatkan kali ciliwung yang kala itu masih sangat lebar, kapal pedagang dapat masuk ke kota Batavia melalui Sunda Kelapa, dan kali-kali kecil percabangan dari Kali Ciliwung dimanfaatkan sebagai moda transportasi air dalam kota.

Gambar diatas adalah pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1870, terlihat beberapa kapal sedang berlabuh
Sedangkan gambar ini (1930) adalah gambar suasana di Jembatan Merah, Kali Besar, dimana jembatan ini dapat dibuka untuk akses kapal yang ingin keluar-masuk Batavia, jembatan ini memiliki pengaruh yang sangat kuat pada kegiatan ekonomi ketika itu, dan jembatan ini juga merupakan suatu teknologi yang sudah maju ketika itu.

Gambar-gambar diatas adalah suasana Kali Besar pada tahun 1910, terlihat Jembatan Merah, dan suasana kegiatan di Kali Besar ketika itu.


Bagaimana dengan saat ini?

Pemprov DKI pada masa Sutiyoso, sudah merencanakan dan malah sudah mulai dijalankan transportasi air ini, dengan persiapan yang kurang matang dan kondisi kali/sungai yang masih berbau/kotor, proyek ini tetap dijalankan pada masa akhir jabatan beliau, dan ini beberapa gambarnya;

Para calon penumpang menunggu dengan sabar di dermaga pemberhentian, terlihat dua moda kapal motor siap mengantar

Dermaga Halimun yang kurang besar dan arsitekturalnya kurang menarik

Indahnya Jakarta.. Het Venetië van Java (Venesia dari Jawa)

Ars Kontemporer - Transportasi Massal di Jakarta - Part 1

Saturday, March 1st, 2008

Post ini adalah salah satu syarat untuk pemasukan tugas mata kuliah Arsitektur Kontemporer
Judul Isyu: Transportasi Massal di Jakarta - M.Fahmi Alhaqqi - 315 04 0137

Transportasi Massal di Jakarta

Dewasa ini, transportasi umum merupakan hal yang sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat urban, khususnya di Jakarta.

Seiring dengan makin tingginya pertumbuhan industri otomotif dan juga naiknya harga minyak dunia disertai dengan volume jalan raya yang kurang berkembang membuat keadaan transportasi di Jakarta semakin kompleks.

Bagi pemilik kendaraan pribadi, berkendara di Jakarta saat peak hours bukanlah suatu kenikmatan, banyak yang harus dibayar selain bensin yang terbuang percuma, juga waktu yang panjang yang harus terbuang sia-sia di jalan, belum lagi kondisi jalan yang makin hari makin tidak sempurna, terlalu banyak kerusakan yang diakibatkan dari rendahnya kontrol perawatan dan mungkin akibat banjir yang melanda Jakarta tidak berapa lama lalu.

Tinjauan Sejarah

Jakarta pada perkembangannya, memiliki beberapa jenis moda Transportasi Massal, antara lain;

  • Trem
  • Transportasi Air / Perahu Sampan
  • Transportasi Umum Kota (Bus, Omprengan, Bemo)
  • Transportasi Umum terbatas (Taksi, Ojek Motor, Ojek Sepeda, Becak, Helicak, Bajaj)
  • Transportasi Massal Skala Menengah (Trans Jakarta)
  • Transportasi Massal Skala Besar (KRL-Kereta Listrik Jakarta Kota-Bogor)

Namun pada perkembangannya, Trem dan transportasi air sudah tidak dapat ditemui, baru belakangan ini oleh Gubernur Sutiyoso mulai diaktifkan kembali Transportasi Air, walaupun dengan persiapan yang kurang matang dan tidak jelas perencanaannya, sedangkan Trem diimajinerkan menjadi Busway/Trans Jakarta yang juga memiliki kompleksitas tinggi (dijelaskan selanjutnya).

berlanjut ke Part 2