Ars Kontemporer - Transportasi Massal di Jakarta - Part 2

March 10th, 2008

Pada bagian pertama, saya sudah mencoba meninjau dari sisi sejarahnya, pada bagian ini saya coba lebih mendetail dengan mengeksplorasi tiap-tiap poin yang saya sebutkan pada postingan pertama;

Post ini adalah salah satu syarat untuk pemasukan tugas mata kuliah Arsitektur Kontemporer
Judul Isyu: Transportasi Massal di Jakarta - M.Fahmi Alhaqqi - 315 04 0137


Trem

Jika kita kembali ke masa-masa Gubernur Jenderal JP Coen, Batavia sudah memiliki jaringan Trem yang meliputi pusat kota hingga ke daerah pinggir kota ketika itu.

Pada gambar diatas (1897) dapat dilihat sebuah Trem melintasi Stationsplein (Museum Bank Mandiri) tepat diseberangnya terdapat Stasiun Kota.

Dapat dilihat, garis kuning merupakan jalur Trem saat itu, menghubungkan pusat kota (Stadhuis) dengan Jalan Harmoni, dapat dilihat pula bahwa saat itu Trem sudah terintegrasi dengan Stasiun Kota, terbukti dengan adanya jalur yang melintasi didepan stasiun tersebut, mengingat Stasiun Kota saat itu masih melayani jalur kereta api luar daerah (Stasiun Gambir belum ada)

Dari gambar diatas, jelas sekali terlihat rel Trem yang melewati lajur di sekitar Stadhuis / Museum Fatahillah, dimana ketika itu Stadhuis merupakan pusat kota Batavia, hal ini memperlihatkan bahwasanya kebutuhan akan transportasi massal sudah direncanakan sejak awal

Pada gambar disamping, terlihat adalah peta jaringan Trem di Batavia ketika itu, Trem sudah merupakan transportasi massal yang terintegrasi dengan kota Batavia.

Dapat dilihat pula kotak-kotak hitam merupakan tempat pemberhentian Trem tersebut.

Transportasi Air

Sebelum membahas mengenai transportasi air, mari kita lihat kembali peta Batavia pada tahun 1920, di peta tersebut terlihat system grid yang menjadi dasar perencanaan kota dan dapat dilihat pula banyaknya percabangan kali yang melalui kota Batavia.

Dan lihat juga peta di Jalan Harmoni-Hayam Wuruk yang merupakan pusat bisnis kala itu, terlihat Kali Harmoni sebagai jalur transportasi air berdampingan dengan jalan raya di kedua sisinya

Jika kita melihat lebih jauh, cikal bakal transportasi air di Batavia adalah adanya pelabuhan sunda kelapa sebagai pintu masuk kapal para pedagang dari luar, memanfaatkan kali ciliwung yang kala itu masih sangat lebar, kapal pedagang dapat masuk ke kota Batavia melalui Sunda Kelapa, dan kali-kali kecil percabangan dari Kali Ciliwung dimanfaatkan sebagai moda transportasi air dalam kota.

Gambar diatas adalah pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1870, terlihat beberapa kapal sedang berlabuh
Sedangkan gambar ini (1930) adalah gambar suasana di Jembatan Merah, Kali Besar, dimana jembatan ini dapat dibuka untuk akses kapal yang ingin keluar-masuk Batavia, jembatan ini memiliki pengaruh yang sangat kuat pada kegiatan ekonomi ketika itu, dan jembatan ini juga merupakan suatu teknologi yang sudah maju ketika itu.

Gambar-gambar diatas adalah suasana Kali Besar pada tahun 1910, terlihat Jembatan Merah, dan suasana kegiatan di Kali Besar ketika itu.


Bagaimana dengan saat ini?

Pemprov DKI pada masa Sutiyoso, sudah merencanakan dan malah sudah mulai dijalankan transportasi air ini, dengan persiapan yang kurang matang dan kondisi kali/sungai yang masih berbau/kotor, proyek ini tetap dijalankan pada masa akhir jabatan beliau, dan ini beberapa gambarnya;

Para calon penumpang menunggu dengan sabar di dermaga pemberhentian, terlihat dua moda kapal motor siap mengantar

Dermaga Halimun yang kurang besar dan arsitekturalnya kurang menarik

Indahnya Jakarta.. Het Venetiƫ van Java (Venesia dari Jawa)

Leave a Reply